Bukit Asmara Situk (BAS)

Posted on Leave a commentPosted in Uncategorized

Terima kasih cinemachromia dan Mas Prawira Bhaktinagara

Bukit Asmara Situk merupakan objek wisata yang terletak di desa Kalilunjar kec. Banjarmangu kab. Banjarnegara – Jawa Tengah dengan berbagai pesonanya. Diawali sajian matahari terbit yang muncul dari puncak gunung Sindoro (pada bulan-bulan tertentu), bisa bersantai dan berselfie ria di berbagai jenis rumah pohon, hingga pendar-pendar warna-warni terowongan Kalilunjar.

Kisah Perjuangan Warga Bikin Bukit Asmara Situk

Posted on Leave a commentPosted in Uncategorized

sumber: http://jateng.tribunnews.com

Objek wisata Bukit Asmara Situk (BAS) di desa Kalilunjar Banjarmangu, Banjarnegara kini sudah mulai dikenal masyarakat. Capaian saat ini rupanya didahului perjuangan berat pada awal pembangunannya. Slamet Raharjo, (37), Kepala Desa Kalilunjar, Banjarmangu menyadari potensi wisata di desanya berupa panorama alam dari puncak bukit bisa dikembangkan. Ia berpikir, potensi itu bisa dikembangkan jadi objek wisata alam sehingga bisa menyejahterakan warga desa. Slamet pun bertekad mewujudkannya. Ia bersama empat warga lain yang merupakan ketua RT setempat, bersemangat mengubah hutan menjadi wisata. Mereka bahu membahu memikul potongan bambu menuju puncak. Dengan alat tukang sederhana, mereka mendirikan rumah kecil yang terikat dengan batang pohon, di tepi tebing dengan dasaran jurang.

Jalan setapak menuju puncak saat itu masih sulit dilalui, terjal dan bersemak. Jaraknya dari dasar bukit menuju puncak sekitar 600 meter. “Saya pernah bekerja 24 jam tanpa henti. Saya keluar modal Rp 5 juta, di luar itu kami swadaya. Saya tidak mengajak warga, kalau mereka sadar nanti akan mengikuti,” katanya, Minggu (9/1).

Awalnya, warga desa tak acuh terhadap aktivitas mereka membuka akses wisata. Bahkan, kata Slamet, tak jarang warga yang pesimis dan bersikap sinis terhadap usaha mereka. Setelah pengerjaan selama 37 hari, rumah pohon sederhana berbahan bambu berhasil jadi. Meski belum sempurna, beberapa wisatawan domestik sudah mulai berdatangan untuk mengunjungi wisata baru itu. Setelah hasilnya mulai nampak, sejumlah warga dan pemuda desa mulai bersimpati. Mereka ikut bergabung menyumbang tenaga. Selain membangun rumah pohon, mereka memperbaiki akses jalan setapak menuju puncak, serta fasilitas pendukung wisata.

“Mulanya kami 5 orang, terus warga lain tersadar dan ikut gabung. Kami bekerja tanpa lelah selama 5 bulan untuk membangun objek wisata ini,” tandasnya. Sayangnya, setelah lima bulan bekerja secara swadaya, lambat laun, satu persatu warga memilih mundur tak melanjutkan pekerjaan. Perolehan laba dari kunjungan wisatawan kala itu juga tak seberapa menyebabkan semangat warga kendur.

Dari mereka, hanya tersisa 13 orang yang masih bersemangat melanjutkan pekerjaan. Perjuangan mereka rupanya tak sia-sia, setelah fasilitas wisata mulai lengkap, kunjungan wisatawan terus bertambah. Pendapatan objek wisata pun meningkat. “13 orang yang bertahan itulah yang kini menjadi pekerja tetap di sini. Mereka pantas mendapatkannya karena perjuangannya,” ucap dia. Dua bulan pertama sejak dibuka, pengelola wisata berhasil mencatat penghasilan sebesar 68 juta dari penjualan tiket. Perolehan tersebut belum dibagi ke pengelola, melainkan dipakai untuk membangun fasilitas penunjang wisata, termasuk membangun rumah pohon baru dengan bahan modern. Rumah pohon dan jembatan pohon dibangun dengan kerangka besi.

Dinding rumah disusun menggunakan bahan kayu dengan desain artistik. Beberapa rumah pohon dari bambu masih dipertahankan. Yang menggembirakan, sampai Desember 2016, sejak dibuka pada Februari 2016 lalu, objek wisata BAS berhasil membukukan pendapatan sekitar Rp 1 miliar dari hasil penjualan tiket.

BAS juga menyerap 30 tenaga kerja dari warga sekitar yang kini menggantungkan nafkah dari wisata. Mereka bekerja sebagai tukang ojek wisata, pedagang dan pekerja tetap wisata. BAS kini bahkan sudah mampu menggaji 13 pekerja tetap wisata dengan penghasilan di atas UMR. “Ada karyawan yang sudah mendapat gaji 2,5 juta perbulan. Besaran gaji tergantung dari peran dan beban kerja masing-masing karyawan,” tandasnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Kisah Perjuangan Warga Bikin Bukit Asmara Situk Jadi Primadona Wisata Beromzet Rp 1 Miliar, http://jateng.tribunnews.com/2017/01/08/kisah-perjuangan-warga-bikin-bukit-asmara-situk-jadi-primadona-wisata-beromzet-rp-1-miliar?page=4.

Penulis: khoirul muzaki

Editor: galih pujo asmoro